Ungkapan yang sering kita dengar, saat kita menerima nasihat untuk mengikuti “nasib” atau “takdir”. Memang sepertinya air mengalir hanya mengikuti nasibnya, tanpa punya “tujuan”, seperti yang kita lihat. Air hanya mengalir dari tempat yang “tinggi” ke tempat “rendah”, dalam bahasa alamnya mengalir sesuai gravitasi, gaya yang menariknya. Terlihat saat kita paksa dia untuk keatas, tetap saja dia jatuh di tarik gravitasi. Apa benar dia tidak punya tujuan????
Kita lihat di bendungan, air yang kita bendung, seolah-olah memang dia diam dan diam, mengikuti apa saja yang terjadi pada dirinya, diam karena terhambat. Sebenarnya kalau diamati lebih jauh, dia sebenarnya “menunggu”, sampai dia merasa cukup untuk melalui bendungan, untuk melewatinya, melampauinya, untuk melanjutkan “cetak biru” yang ada di dirinya, melanjutkan “hukum alam” yang telah ditetapkan. Inilah tujuan dia, melanjutkan ”cetak biru” yang ditetapkan, apapun halangan, rintangan, hambatan yang menerpa dirinya, dia punya cara untuk melampauinya, melewatinya.
Siklus air, siklus dirinya, dari atas turun ke muka bumi, mengalir, melewati rintangan-rintangan, untuk bermuara dilautan, menyatu dengan teman-temannya,entah darimanapun asalnya , darimanapun asalnya, menunggu untuk “diangkat keatas”, dan untuk turun lagi dimuka bumi, begitu dan begitu. Itulah yang terjadi pada dirinya.
Walaupun rintangan yang harus dia lewati terasa berat, kadang dia harus menyusup sampai di “dasar bumi”, “terjebak di dalam tubuh manusia”, dan yang dia lakukan hanya menunggu sampai dia cukup mampu untuk melewatinya.
Siklus air, itu yang membuat dirinya tidak bisa untuk “kebawah” untuk menyatu, bahagialah air yang sudah menyatu, tanpa harus terganggu oleh siklus, ketenanganlah yang dia dapat, Yaaa… tenang dan tenang, walaupun harus melalui perjuangan, melalui siklus.
Untuk sampai “kebawah” sampai dalam “ketenangan” dia harus punya bekal, bekal untuk memberatkan dirinya. Bekal untuk mampu menopang rekan-rekannya yang masih “ringan”. Walaupun ombak, riak menerpanya dia akan tetap turun, tetap turun. Untuk menyatu dibawah sana, didasar lautan …… lautan ketenangan, lautan penyatuan, lautan kesadaran.
Memang yang dirasakan semakin dia menuju ke dasar laut, tekanan yang diterimanya semakin besar.
Dan semua tergantung bekal dia, bekal dia sedikit, dia pun ada di lapisan atas, dan resiko untuk terjebak siklus semakin besar, resiko terombang ambing ombak kian besar, resiko hidup dalam ketidak pastian.
Semakin besar bekal dia, semakin dalam dia bisa menyelam, dan semakin menuju ke tujuan dia, untuk ketenangan, untuk menerima gaya, menyatu, dan menyatu dengan gaya yang menariknya. Menjadi dasar, penopang rekan-rekannya. Menjadi tumpuan.
Menyatukan dirinya, Menge-nol-kan dirinya, Meng-hilang-kan dirinya, Meng-hampa-kan dirinya. Tiada rasa untuk ada. Yang ada hanya Dia, Yang Maha Ada.
Yaa… itulah dia AIR, yang memiliki tujuan untuk melanjutkan cetak biru dirinya.
Cetak Biru, yaa… cetak biru dirinya, tergantung seberapa Besar Bekal untuk menyatukan dirinya.
rahayu
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


2 comments:
Waahhh..iki duduk kata2nya mbahe ikii..
Gak percoyo aku lek mbahe sing nggawe...!!!!
Terlalu pinter untuk bertutur kata..WAkakakkakaaaaa!!!
Biarlah burung berkicau asal ayam tetep makan...
Post a Comment