Monday, April 8, 2013
Wadah
Wadah yang tertutup, kosong, yang ditaruh di kolam akan mengapung dipermukaan air. Ombak-pun akan silih berganti mengguncang si-wadah, terombang-ambing ke kanan ke kiri.
Saat air hujan turun-pun dia hanya berlalu dari tutup sang wadah, tanpa pernah mengisi sang wadah. Begitulah keadaan sang wadah terombang ambing, karena tak pernah berisi.
Saat tutup sang wadah kita buka, dan air kehidupan-pun mengisinya , perlahan-lahan, dan perlahan-lahan. Sebagian wadah-pun mulai tenggelam, dan wadah perlahan-lahan mampu untuk menahan gempuran ombak yang silih berganti selalu datang, dia-pun mulai menemukan kestabilannya walaupun masih sering terbawa. Melayang, melayang dan melayang, dan sudah tidak lagi berada di permukaan kolam.
Dengan seiring penuhnya sang wadah oleh berbagai pernik kehidupan, dan dia pun mulai tenggelam, tenggelam meresapi kehidupan, dan sang ombak-pun hanya bisa berlalu diatasnya tanpa mampu menggerakkannya lagi.
rahayu
080413
Sunday, April 20, 2008
Kaca Benggala
Cermin…..
Dia akan memantulkan apapun yang ada di depannya, entah itu baik atau buruk bagi dia. Tetap akan di tampilkan bayangan di dalam dirinya. Kadang cermin bisa memantulkan seperti aslinya, jernih, tanpa cacat. Kadang juga cermin memantulkan yang kelihatan buruk, kusam, apabila si cermin mulai terhalang, debu…, tirai…, kabut….
Karena halangan inilah yang menyebabkan si cermin tidak dapat memantulkan bayangan yang jernih, murni….
Bayangan si pecermin…. Yaa bayangan si pecermin tidak akan terlihat seutuhnya…
Karena ada debu, tirai, kabut yang sangat pekat…. Inilah penghalang si cermin.
Butuh usaha untuk menyingkap tirai, kabut, debu kehidupan…. agar cermin-cermin dapat memantulkan bayangan tanpa cela, jernih, murni.
Usaha yang harus selalu berkesinambungan agar tirai, kabut, debu kehidupan dapat mulai terangkat…. tersingkap …. terberai…
Bayangan tanpa cela… itulah yang diinginkan, diharapkan dan ditunggu si cermin. Pantulan yang sempurna…. itulah yang akan dilakukan si cermin. Tanpa harus ada perintah, dengan senang hati, dengan berlapang dada, dia akan memantulkan kesempurnaan… yaa pantulan kesempurnaan dalam kehidupan.
Seberapa tebal debu yang menghalangi, yang paling utama adalah usaha untuk menyingkapnya, membersihkannya, mengangkatnya dari depan cermin.
Bagaimana dengan cermin yang telah retak? Telah pecah? Telah hancur?
Walau bagaimanapun dia retak, pecah ataupun hancur cermin tetaplah cermin. Yang paling utama harus bisa menunjukkan jati diri sebuah cermin. Jati diri cermin.
Dalam keretakan, keterpecahan, kehancuran, cermin tetaplah cermin. Saat si debu mulai terangkat, tersingkap wujud asli si cermin akan terlihat. Dia akan tetap memantulkan dengan jernih, murni walaupun sebagian. Yaa….. walaupun sebagian, tidak keseluruhan. Karena terhalang keretakan, keterpecahan, kehancuran dia. Dan berharap untuk dileburkan… yaa dileburkan untuk dijadikan cermin-cermin yang baru… cermin-cermin yang masih wutuh… cermin-cermin yang mampu untuk memantulkan seutuhnya bayangan si pecermin… Yaa bayangan yang wutuh dari si pecermin.
Disinilah cermin, kaca benggala bertugas… memantulkan bayangan wutuh si pecermin… Bayangan wutuh…. dalam kesempurnaan kehidupannya.
Rahayu
Dia akan memantulkan apapun yang ada di depannya, entah itu baik atau buruk bagi dia. Tetap akan di tampilkan bayangan di dalam dirinya. Kadang cermin bisa memantulkan seperti aslinya, jernih, tanpa cacat. Kadang juga cermin memantulkan yang kelihatan buruk, kusam, apabila si cermin mulai terhalang, debu…, tirai…, kabut….
Karena halangan inilah yang menyebabkan si cermin tidak dapat memantulkan bayangan yang jernih, murni….
Bayangan si pecermin…. Yaa bayangan si pecermin tidak akan terlihat seutuhnya…
Karena ada debu, tirai, kabut yang sangat pekat…. Inilah penghalang si cermin.
Butuh usaha untuk menyingkap tirai, kabut, debu kehidupan…. agar cermin-cermin dapat memantulkan bayangan tanpa cela, jernih, murni.
Usaha yang harus selalu berkesinambungan agar tirai, kabut, debu kehidupan dapat mulai terangkat…. tersingkap …. terberai…
Bayangan tanpa cela… itulah yang diinginkan, diharapkan dan ditunggu si cermin. Pantulan yang sempurna…. itulah yang akan dilakukan si cermin. Tanpa harus ada perintah, dengan senang hati, dengan berlapang dada, dia akan memantulkan kesempurnaan… yaa pantulan kesempurnaan dalam kehidupan.
Seberapa tebal debu yang menghalangi, yang paling utama adalah usaha untuk menyingkapnya, membersihkannya, mengangkatnya dari depan cermin.
Bagaimana dengan cermin yang telah retak? Telah pecah? Telah hancur?
Walau bagaimanapun dia retak, pecah ataupun hancur cermin tetaplah cermin. Yang paling utama harus bisa menunjukkan jati diri sebuah cermin. Jati diri cermin.
Dalam keretakan, keterpecahan, kehancuran, cermin tetaplah cermin. Saat si debu mulai terangkat, tersingkap wujud asli si cermin akan terlihat. Dia akan tetap memantulkan dengan jernih, murni walaupun sebagian. Yaa….. walaupun sebagian, tidak keseluruhan. Karena terhalang keretakan, keterpecahan, kehancuran dia. Dan berharap untuk dileburkan… yaa dileburkan untuk dijadikan cermin-cermin yang baru… cermin-cermin yang masih wutuh… cermin-cermin yang mampu untuk memantulkan seutuhnya bayangan si pecermin… Yaa bayangan yang wutuh dari si pecermin.
Disinilah cermin, kaca benggala bertugas… memantulkan bayangan wutuh si pecermin… Bayangan wutuh…. dalam kesempurnaan kehidupannya.
Rahayu
Sunday, March 16, 2008
Mengalir Laksana Air?????
Ungkapan yang sering kita dengar, saat kita menerima nasihat untuk mengikuti “nasib” atau “takdir”. Memang sepertinya air mengalir hanya mengikuti nasibnya, tanpa punya “tujuan”, seperti yang kita lihat. Air hanya mengalir dari tempat yang “tinggi” ke tempat “rendah”, dalam bahasa alamnya mengalir sesuai gravitasi, gaya yang menariknya. Terlihat saat kita paksa dia untuk keatas, tetap saja dia jatuh di tarik gravitasi. Apa benar dia tidak punya tujuan????
Kita lihat di bendungan, air yang kita bendung, seolah-olah memang dia diam dan diam, mengikuti apa saja yang terjadi pada dirinya, diam karena terhambat. Sebenarnya kalau diamati lebih jauh, dia sebenarnya “menunggu”, sampai dia merasa cukup untuk melalui bendungan, untuk melewatinya, melampauinya, untuk melanjutkan “cetak biru” yang ada di dirinya, melanjutkan “hukum alam” yang telah ditetapkan. Inilah tujuan dia, melanjutkan ”cetak biru” yang ditetapkan, apapun halangan, rintangan, hambatan yang menerpa dirinya, dia punya cara untuk melampauinya, melewatinya.
Siklus air, siklus dirinya, dari atas turun ke muka bumi, mengalir, melewati rintangan-rintangan, untuk bermuara dilautan, menyatu dengan teman-temannya,entah darimanapun asalnya , darimanapun asalnya, menunggu untuk “diangkat keatas”, dan untuk turun lagi dimuka bumi, begitu dan begitu. Itulah yang terjadi pada dirinya.
Walaupun rintangan yang harus dia lewati terasa berat, kadang dia harus menyusup sampai di “dasar bumi”, “terjebak di dalam tubuh manusia”, dan yang dia lakukan hanya menunggu sampai dia cukup mampu untuk melewatinya.
Siklus air, itu yang membuat dirinya tidak bisa untuk “kebawah” untuk menyatu, bahagialah air yang sudah menyatu, tanpa harus terganggu oleh siklus, ketenanganlah yang dia dapat, Yaaa… tenang dan tenang, walaupun harus melalui perjuangan, melalui siklus.
Untuk sampai “kebawah” sampai dalam “ketenangan” dia harus punya bekal, bekal untuk memberatkan dirinya. Bekal untuk mampu menopang rekan-rekannya yang masih “ringan”. Walaupun ombak, riak menerpanya dia akan tetap turun, tetap turun. Untuk menyatu dibawah sana, didasar lautan …… lautan ketenangan, lautan penyatuan, lautan kesadaran.
Memang yang dirasakan semakin dia menuju ke dasar laut, tekanan yang diterimanya semakin besar.
Dan semua tergantung bekal dia, bekal dia sedikit, dia pun ada di lapisan atas, dan resiko untuk terjebak siklus semakin besar, resiko terombang ambing ombak kian besar, resiko hidup dalam ketidak pastian.
Semakin besar bekal dia, semakin dalam dia bisa menyelam, dan semakin menuju ke tujuan dia, untuk ketenangan, untuk menerima gaya, menyatu, dan menyatu dengan gaya yang menariknya. Menjadi dasar, penopang rekan-rekannya. Menjadi tumpuan.
Menyatukan dirinya, Menge-nol-kan dirinya, Meng-hilang-kan dirinya, Meng-hampa-kan dirinya. Tiada rasa untuk ada. Yang ada hanya Dia, Yang Maha Ada.
Yaa… itulah dia AIR, yang memiliki tujuan untuk melanjutkan cetak biru dirinya.
Cetak Biru, yaa… cetak biru dirinya, tergantung seberapa Besar Bekal untuk menyatukan dirinya.
rahayu
Kita lihat di bendungan, air yang kita bendung, seolah-olah memang dia diam dan diam, mengikuti apa saja yang terjadi pada dirinya, diam karena terhambat. Sebenarnya kalau diamati lebih jauh, dia sebenarnya “menunggu”, sampai dia merasa cukup untuk melalui bendungan, untuk melewatinya, melampauinya, untuk melanjutkan “cetak biru” yang ada di dirinya, melanjutkan “hukum alam” yang telah ditetapkan. Inilah tujuan dia, melanjutkan ”cetak biru” yang ditetapkan, apapun halangan, rintangan, hambatan yang menerpa dirinya, dia punya cara untuk melampauinya, melewatinya.
Siklus air, siklus dirinya, dari atas turun ke muka bumi, mengalir, melewati rintangan-rintangan, untuk bermuara dilautan, menyatu dengan teman-temannya,entah darimanapun asalnya , darimanapun asalnya, menunggu untuk “diangkat keatas”, dan untuk turun lagi dimuka bumi, begitu dan begitu. Itulah yang terjadi pada dirinya.
Walaupun rintangan yang harus dia lewati terasa berat, kadang dia harus menyusup sampai di “dasar bumi”, “terjebak di dalam tubuh manusia”, dan yang dia lakukan hanya menunggu sampai dia cukup mampu untuk melewatinya.
Siklus air, itu yang membuat dirinya tidak bisa untuk “kebawah” untuk menyatu, bahagialah air yang sudah menyatu, tanpa harus terganggu oleh siklus, ketenanganlah yang dia dapat, Yaaa… tenang dan tenang, walaupun harus melalui perjuangan, melalui siklus.
Untuk sampai “kebawah” sampai dalam “ketenangan” dia harus punya bekal, bekal untuk memberatkan dirinya. Bekal untuk mampu menopang rekan-rekannya yang masih “ringan”. Walaupun ombak, riak menerpanya dia akan tetap turun, tetap turun. Untuk menyatu dibawah sana, didasar lautan …… lautan ketenangan, lautan penyatuan, lautan kesadaran.
Memang yang dirasakan semakin dia menuju ke dasar laut, tekanan yang diterimanya semakin besar.
Dan semua tergantung bekal dia, bekal dia sedikit, dia pun ada di lapisan atas, dan resiko untuk terjebak siklus semakin besar, resiko terombang ambing ombak kian besar, resiko hidup dalam ketidak pastian.
Semakin besar bekal dia, semakin dalam dia bisa menyelam, dan semakin menuju ke tujuan dia, untuk ketenangan, untuk menerima gaya, menyatu, dan menyatu dengan gaya yang menariknya. Menjadi dasar, penopang rekan-rekannya. Menjadi tumpuan.
Menyatukan dirinya, Menge-nol-kan dirinya, Meng-hilang-kan dirinya, Meng-hampa-kan dirinya. Tiada rasa untuk ada. Yang ada hanya Dia, Yang Maha Ada.
Yaa… itulah dia AIR, yang memiliki tujuan untuk melanjutkan cetak biru dirinya.
Cetak Biru, yaa… cetak biru dirinya, tergantung seberapa Besar Bekal untuk menyatukan dirinya.
rahayu
Wednesday, March 12, 2008
Lorong Kehidupan
Hidup itu seperti berjalan didalam lorong, dimana ujung berupa "pintu" jalan kebebasan. Sepanjang lorong kanan kirinya berupa lukisan. Dalam perjalanan lukisan-lukisan ini pasti terlihat, tinggal diri kita sendiri mau atau tidak menikmati lukisan-lukisan tersebut.
Memang sih lukisan itu sangat indah untuk di tinggalkan, hal inilah yang sering membuat kita lupa akan tujuan perjalanan, untuk sampai ke ujung jalan.
Banyak orang yang terbuai, tersilap, terhanyut dalam lukisan, yang membuatnya ogah untuk beranjak melanjutkan perjalanan.
Indah memang indah, seperti gula, manis memang sangat manis. Akankah kita hanya bermanja-manja ria, bermanis-manis ria dalam menikmati lukisan???
Semua tergantung diri kita sendiri, kadang untuk meninggalkan lukisan sangat-sangat berat. Seolah-olah untuk beringsutpun sangat berat. Tapi apa hendak dikata, bila memang kita hendak mencapai tujuan ada hal yang harus dikorbankan.
Berat memang berat, dan mahal pengorbanan yang harus dilakukan. Tetapi semahal, seberat apapun itu tetap harus kita lakukan untuk mencapai tujuan, untuk bisa meneruskan perjalanan di dalam “Lorong Kehidupan”.
Di ujung sana tlah menanti cahya kebebasan, pelita kehidupan, sayang untuk kita lewatkan. Hendak berapa lama lagi kita akan terus berkutat???? Jalan di tempat???
Kesadaran diri yang kita perlukan….. untuk melakukan pengorbanan….
Korban….. kadang kitapun masih berhitung dalam pengorbanan….
Salam
Rahayu
Memang sih lukisan itu sangat indah untuk di tinggalkan, hal inilah yang sering membuat kita lupa akan tujuan perjalanan, untuk sampai ke ujung jalan.
Banyak orang yang terbuai, tersilap, terhanyut dalam lukisan, yang membuatnya ogah untuk beranjak melanjutkan perjalanan.
Indah memang indah, seperti gula, manis memang sangat manis. Akankah kita hanya bermanja-manja ria, bermanis-manis ria dalam menikmati lukisan???
Semua tergantung diri kita sendiri, kadang untuk meninggalkan lukisan sangat-sangat berat. Seolah-olah untuk beringsutpun sangat berat. Tapi apa hendak dikata, bila memang kita hendak mencapai tujuan ada hal yang harus dikorbankan.
Berat memang berat, dan mahal pengorbanan yang harus dilakukan. Tetapi semahal, seberat apapun itu tetap harus kita lakukan untuk mencapai tujuan, untuk bisa meneruskan perjalanan di dalam “Lorong Kehidupan”.
Di ujung sana tlah menanti cahya kebebasan, pelita kehidupan, sayang untuk kita lewatkan. Hendak berapa lama lagi kita akan terus berkutat???? Jalan di tempat???
Kesadaran diri yang kita perlukan….. untuk melakukan pengorbanan….
Korban….. kadang kitapun masih berhitung dalam pengorbanan….
Salam
Rahayu
Subscribe to:
Posts (Atom)

